Mengetahui seperti apa gejala awal infeksi HIV sangat penting, karena pada tahap awal banyak orang tidak merasakan keluhan yang jelas. Padahal, pada minggu-minggu pertama setelah terpapar, tubuh sebenarnya dapat memberikan sejumlah sinyal yang sering kali mirip dengan flu atau infeksi ringan lainnya.
Gejala Awal Infeksi HIV
Gejala awal HIV umumnya muncul sekitar 1–4 minggu setelah seseorang terpapar virus. Masa ini disebut fase infeksi HIV akut, ketika virus berkembang biak dengan sangat cepat dan sistem kekebalan tubuh bekerja keras untuk melawannya.
Pada tahap ini, keluhan yang muncul sering menyerupai gejala flu atau infeksi ringan, seperti:
- Demam di atas 38°C.
- Sakit kepala yang tidak kunjung membaik.
- Nyeri otot dan sendi.
- Sakit tenggorokan.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Ruam kemerahan di kulit.
- Sariawan atau luka di mulut, tenggorokan, area genital, atau anus.
- Rasa lelah berlebihan tanpa sebab jelas.
- Penurunan berat badan secara tiba-tiba.
Namun, tidak semua orang merasakan keluhan tersebut. Sebagian orang bahkan tidak mengalami gejala apa pun meski sudah terinfeksi. Karena itu, gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terkena HIV, tes HIV tetap menjadi cara paling akurat untuk mengetahuinya.
Baca Juga: Perbedaan Sariawan Biasa dengan Sariawan HIV
Mengapa Gejala Awal Sering Diabaikan?
Gejala awal HIV sering kali menyerupai infeksi virus lain, seperti mononukleosis, demam berdarah, atau bahkan flu biasa. Banyak orang mengira tubuhnya hanya sedang melawan infeksi ringan, lalu merasa membaik dalam beberapa hari. Padahal, di balik itu, virus HIV tetap aktif berkembang di dalam tubuh.
Setelah fase awal ini berlalu, HIV masuk ke tahap laten. Pada fase ini, tidak muncul gejala apa pun, meskipun virus terus merusak sel-sel kekebalan secara perlahan.
Tahap laten bisa berlangsung sangat lama, mulai dari beberapa tahun hingga lebih dari 10 tahun jika tidak diobati. Selama periode tanpa gejala ini, seseorang tetap dapat menularkan HIV kepada orang lain tanpa menyadarinya.
Baca Juga: 7 Mitos yang Salah Tentang HIV
Apa yang Terjadi Jika HIV Tidak Diobati?
Tanpa pengobatan, HIV akan terus melemahkan sistem kekebalan tubuh. Seiring waktu, tubuh menjadi sangat rentan terhadap infeksi yang sebenarnya ringan bagi orang sehat, namun dapat berbahaya atau bahkan fatal pada penderita HIV. Beberapa contohnya meliputi pneumonia berat, TBC, infeksi jamur mulut (thrush), diare kronis, hingga jenis kanker tertentu seperti sarkoma.
Jika tidak ditangani, HIV dapat berkembang menjadi AIDS. Pada tahap ini, muncul berbagai gejala seperti:
- Demam berkepanjangan.
- Keringat malam.
- Penurunan berat badan yang drastis.
- Diare lebih dari satu bulan.
- Memar atau perdarahan tanpa sebab.
- Gangguan saraf seperti kebingungan, gangguan memori, atau kejang.
Kabar baiknya, dengan pengobatan antiretroviral (ARV) yang tepat dan teratur, sebagian besar orang dengan HIV tidak pernah mencapai tahap AIDS. Mereka dapat hidup sehat, aktif, dan memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan orang tanpa HIV.
Karena itu, jangan abaikan gejala mirip flu yang muncul setelah aktivitas berisiko. Segera lakukan tes bila merasa memiliki potensi terpapar HIV, agar penyebabnya bisa dipastikan dan ditangani secepat mungkin.
Jika Anda masih memiliki pertanyaan, Anda bisa memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care tersedia di App Store dan Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Nadia Opmalina
Mayo Clinic (2024). HIV/AIDS. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524
Kendall K. Morgan (2024). HIV Symptoms. Available from: https://www.webmd.com/hiv-aids/understanding-aids-hiv-symptoms
Daniel Yetman (2025). Early Signs of HIV. Available from: https://www.healthline.com/health/hiv-aids/early-signs-hiv-infection