Selama ini, tuberkulosis sering dikenal sebagai penyakit yang menyerang paru-paru. Padahal, infeksi ini juga dapat menyerang organ lain di luar paru.
Salah satu bentuk TB yang kerap luput dikenali adalah TB tulang. Kondisi ini terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi jaringan tulang dan sendi. Karena gejalanya sering muncul perlahan dan menyerupai keluhan otot atau sendi pada umumnya, banyak penderita baru menyadari penyakit ini setelah kondisinya memburuk.
Apa itu TB Tulang?
TB tulang, yang juga dikenal sebagai tuberkulosis osteoartikular atau skeletal TB, merupakan salah satu bentuk TB ekstrapulmonal (infeksi di luar paru-paru) yang menyerang sistem rangka, termasuk tulang dan sendi. Bentuk yang paling sering dijumpai adalah TB tulang belakang, yang dikenal sebagai penyakit Pott.
Secara global, TB tulang menyumbang sekitar 2–3% dari seluruh kasus tuberkulosis di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Namun, kasus ini lebih sering ditemukan di negara berkembang atau wilayah dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Mengenal Tes Mantoux Sebagai Deteksi Awal Penyakit Tuberkulosis (TBC)
Penyebab dan Faktor Risiko TB Tulang
TB tulang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang biasanya berasal dari infeksi TB di paru-paru, lalu menyebar ke tulang melalui aliran darah.
Berbeda dengan TB paru, TB tulang tidak menular secara langsung melalui udara. Penularan hanya berisiko terjadi bila penderita juga mengalami TB aktif pada paru-paru atau saluran pernapasan.
Beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB tulang antara lain:
- Orang dengan HIV/AIDS
- Penderita diabetes tipe 2
- Pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir
- Penderita kanker
- Orang dengan penyakit paru akibat paparan silika
- Pengguna jangka panjang obat kortikosteroid atau obat imunosupresan
- Orang dengan malnutrisi atau berat badan sangat rendah
- Lansia dan bayi
Baca Juga: Perbedaan Pneumonia dengan Tuberkulosis (TBC)
Gejala TB Tulang
Gejala TB tulang sering berkembang secara perlahan. Bahkan, keluhan dapat baru terasa setelah berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sejak infeksi terjadi. Inilah yang membuat TB tulang sering terlambat didiagnosis.
Beberapa gejala utama yang perlu diwaspadai meliputi:
- Nyeri dan nyeri tekan pada tulang atau sendi yang terinfeksi
- Pembengkakan di sekitar tulang atau sendi
- Kekakuan sendi disertai keterbatasan gerak
- Penyusutan massa otot di sekitar area yang terkena
- Perubahan bentuk tulang atau sendi
- Penumpukan nanah tanpa tanda peradangan khas seperti kemerahan atau rasa panas
- Demam ringan, terutama pada malam hari
- Keringat malam berlebihan
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
- Tubuh terasa lemah dan mudah lelah
Bila TB menyerang tulang belakang, gejala yang muncul umumnya lebih berat, antara lain:
- Nyeri punggung kronis yang semakin memburuk seiring waktu
- Postur tubuh menjadi bungkuk
- Kelumpuhan akibat tekanan pada sumsum tulang belakang
- Gangguan saraf, seperti mati rasa atau kesemutan
TB tulang sebenarnya dapat disembuhkan, namun memerlukan pengobatan jangka panjang dan kedisiplinan tinggi. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada tulang atau sendi, kelumpuhan, bahkan berujung pada kematian.
Karena itu, segera periksakan diri ke dokter jika mengalami satu atau beberapa gejala di atas. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter melalui layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care yang tersedia di App Store dan Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Nadia Opmalina
Aubrey Bailey, PT, DPT, CHT (2025). What Is Bone Tuberculosis?. Available from: https://www.verywellhealth.com/bone-tuberculosis-6500926
WebMD (2024). What Is Skeletal Tuberculosis?. Available from: https://www.webmd.com/lung/what-is-skeletal-tuberculosis
Ben Koprowski (2023). What to know about bone tuberculosis. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/bone-tuberculosis