Brand/Nama Lain
Cultube 3 FDC Paed, Erabutol Plus, Inadoxin Forte, Inha, INH-CIBA, Inoxin, Isoniazid, Kapedoxin, Metham, Pehadoxin Forte, Pulna Forte, Pro TB, Pyravit, Rifanh, Rifastar, Rimcure Paed, Suprazid Forte, dan TB Vit 6.
Cara Kerja
Isoniazid adalah obat antituberkulosis yang bekerja dengan menghambat sintesis asam mikolat, yaitu komponen penting dinding sel Mycobacterium tuberculosis. Obat ini bersifat pro-drug yang diaktifkan oleh enzim katalase-peroksidase bakteri (KatG), kemudian mengganggu pembentukan dinding sel sehingga bakteri tidak dapat tumbuh dan berkembang. Isoniazid efektif terutama terhadap kuman TB yang sedang aktif membelah.
Indikasi
Isoniazid diindikasikan untuk pengobatan dan pencegahan tuberkulosis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Obat ini digunakan sebagai bagian dari terapi kombinasi pada tuberkulosis aktif, baik paru maupun ekstra paru, untuk mencegah terjadinya resistensi kuman.
Isoniazid juga digunakan sebagai terapi profilaksis pada individu dengan infeksi TB laten atau pada orang yang memiliki risiko tinggi berkembang menjadi tuberkulosis aktif.
Kontraindikasi
Isoniazid dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap isoniazid atau obat antituberkulosis sejenis. Obat ini juga tidak dianjurkan pada penderita penyakit hati berat, seperti hepatitis akut atau gagal hati, karena dapat meningkatkan risiko hepatotoksisitas.
Penggunaan isoniazid perlu dihindari atau dipertimbangkan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat neuropati perifer berat atau penyalahgunaan alkohol.
Efek Samping
Efek samping isoniazid yang paling sering adalah gangguan fungsi hati, mulai dari peningkatan enzim hati hingga hepatitis, terutama pada penggunaan jangka panjang.
Isoniazid dapat menyebabkan neuropati perifer akibat defisiensi vitamin B6 (piridoksin), yang ditandai dengan kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki.
Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi mual, muntah, ruam kulit, reaksi alergi, serta gangguan sistem saraf seperti pusing dan kejang pada kasus tertentu.
Sediaan
Isoniazid tersedia dalam berbagai sediaan untuk memudahkan penggunaannya dalam terapi tuberkulosis.
Obat ini umumnya tersedia dalam bentuk tablet dan kaplet untuk penggunaan oral dengan dosis yang bervariasi, baik sebagai obat tunggal maupun dalam kombinasi tetap dengan obat antituberkulosis lain.
Isoniazid juga tersedia dalam bentuk sediaan injeksi untuk penggunaan parenteral pada kondisi tertentu, seperti pada pasien yang tidak dapat mengonsumsi obat secara oral.
Dosis
Dosis isoniazid bervariasi tergantung usia, berat badan, dan tujuan penggunaan.
Pada pengobatan tuberkulosis aktif, isoniazid umumnya diberikan dengan dosis 5 mg/kgBB per hari (maksimal 300 mg per hari) sebagai bagian dari terapi kombinasi.
Untuk terapi pencegahan TB laten, dosis yang sering digunakan adalah 300 mg per hari pada orang dewasa atau sesuai berat badan pada anak, dalam jangka waktu tertentu.
Penyesuaian dosis perlu dilakukan pada pasien dengan gangguan fungsi hati dan harus berada di bawah pengawasan tenaga medis.
Keamanan
Isoniazid termasuk dalam kategori keamanan kehamilan kategori C menurut klasifikasi FDA lama, yang berarti studi pada hewan menunjukkan adanya risiko, namun belum terdapat studi terkontrol yang memadai pada manusia.
Meskipun demikian, isoniazid tetap dapat digunakan pada ibu hamil bila manfaat pengobatan tuberkulosis lebih besar dibandingkan potensi risikonya, sebab TB yang tidak diobati dapat membahayakan ibu dan janin.
Selama penggunaan, dianjurkan pemberian vitamin B6 (piridoksin) untuk mengurangi risiko neuropati perifer.
Interaksi Obat
Isoniazid dapat berinteraksi dengan berbagai obat karena kemampuannya menghambat enzim sitokrom P450 di hati, sehingga meningkatkan kadar beberapa obat dalam darah.
Interaksi dapat terjadi dengan obat seperti fenitoin, karbamazepin, dan warfarin yang risikonya dapat meningkat hingga menimbulkan toksisitas.
Konsumsi alkohol bersamaan dengan isoniazid dapat meningkatkan risiko kerusakan hati, sehingga sebaiknya dihindari selama terapi.
Mau tahu informasi seputar obat-obatan lainnya? Cek di sini, ya!
- dr. Alvidiani Agustina Damanik
Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Latent tuberculosis infection treatment regimens [PDF]. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/tb/topic/treatment/pdf/LTBITreatmentRegimens.pdf
Oklahoma State Department of Health. (2023). Isoniazid: A patient’s guide to taking medicine for tuberculosis [PDF]. https://oklahoma.gov/content/dam/ok/en/health/health2/aem-documents/prevention-and-preparedness/infectious-disease-prevention-and-response/Isoniazid.pdf
Pharmascience Inc. (2024). Prescribing information: Isoniazid tablets USP and oral solution USP [PDF]. Health Canada Drug Product Database. https://pdf.hres.ca/dpd_pm/00028661.PDF
Tanzania Medicines & Medical Devices Authority. (2022). Summary of product characteristics: Isoniazid tablets BP 300 mg [PDF]. https://www.tmda.go.tz/uploads/1678455486-T19H0741SmPCV1.pdf