• Beranda
  • Nutrisi
  • Risiko Kesehatan Di Balik Kenikmatan Makan Jukut Goreng

Risiko Kesehatan Di Balik Kenikmatan Makan Jukut Goreng

Risiko Kesehatan Di Balik Kenikmatan Makan Jukut Goreng
Ilustrasi jukut goreng. Credits: Freepik

Bagikan :

Jukut goreng kerap menjadi pilihan lezat, baik sebagai lauk pendamping maupun camilan. Namun, di balik cita rasanya yang gurih, hidangan sederhana ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang sering luput dari perhatian.

Seperti halnya gorengan lain, proses memasak jukut goreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak sehingga termasuk makanan tinggi lemak. Meski masih aman dikonsumsi sesekali, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Risiko Kesehatan Makan Jukut Goreng

Jukut goreng merupakan olahan sayuran hijau yang digoreng hingga garing. Seperti jenis gorengan lainnya, jukut goreng cenderung tinggi kalori dan lemak jenuh, serta berpotensi mengandung lemak trans, terutama jika minyak yang digunakan dipakai berulang kali.

Konsumsi makanan berminyak seperti jukut goreng dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, di antaranya:

Memperlambat pengosongan lambung

Makanan berminyak seperti jukut goreng dapat memperlambat pengosongan lambung. Kondisi ini dapat memicu keluhan seperti perut kembung, mual, atau nyeri perut.

Pada orang dengan gangguan pencernaan tertentu, misalnya sindrom iritasi usus besar (IBS), konsumsi makanan berminyak bahkan dapat memperburuk gejala, seperti diare dan kram perut.

Mengganggu keseimbangan mikrobioma usus

Konsumsi gorengan secara rutin, termasuk jukut goreng, berisiko mengganggu keseimbangan mikrobioma usus. Padahal, mikrobioma usus merupakan kumpulan bakteri baik di saluran pencernaan yang berperan penting dalam proses pencernaan, sistem imun, dan pengaturan berat badan.

Ketidakseimbangan mikrobioma usus diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Baca Juga: Selain Digoreng, Begini Cara Masak Ikan yang Sehat

Risiko serangan jantung

Sebagian besar gorengan, terutama yang digoreng menggunakan minyak berulang kali, berpotensi mengandung lemak trans. Lemak trans dikenal sebagai jenis lemak yang paling berbahaya bagi kesehatan jantung.

Konsumsi lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) sekaligus menurunkan kolesterol baik (HDL). Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke.

Meningkatnya kolesterol jahat (LDL)

Lemak jenuh dapat ditemukan dalam makanan seperti jukut goreng. Konsumsi lemak jenuh berlebihan diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

Jika asupan lemak jenuh melebihi sekitar 6% dari total kebutuhan kalori harian, risiko penumpukan plak di pembuluh darah dapat meningkat. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat berujung pada penyakit kardiovaskular.

Baca Juga: Minyak Terbaik untuk Menggoreng Makanan

Efek jangka panjang lainnya

Kebiasaan mengonsumsi gorengan, termasuk jukut goreng, dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Kombinasi kalori yang tinggi, lemak jenuh, serta minyak yang teroksidasi akibat pemakaian berulang dapat memicu kenaikan berat badan, resistensi insulin, dan peradangan dalam tubuh.

Dari sisi kesehatan kulit, pola makan tinggi lemak, gula olahan, dan karbohidrat sederhana dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang berperan dalam produksi sebum. Ketika produksi sebum meningkat, pori-pori lebih mudah tersumbat sehingga jerawat lebih mudah muncul atau menjadi lebih parah.

Selain itu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi makanan ultra-proses dan gorengan juga dapat berdampak negatif pada fungsi otak, termasuk penurunan daya ingat dan kemampuan kognitif.

 

Meski memiliki sejumlah risiko, bukan berarti jukut goreng harus dihindari sepenuhnya. Kunci utamanya adalah membatasi porsi dan frekuensi konsumsinya, serta menghindari mengombinasikannya dengan makanan berminyak lain dalam satu waktu makan.

Jika masih memiliki pertanyaan seputar kesehatan dan nutrisi makanan, manfaatkan layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care yang tersedia di App Store maupun Play Store.

 

Mau tahu informasi seputar nutrisi, makanan dan tips diet lainnya? Cek di sini, ya!

Writer : Agatha Writer
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Senin, 15 Desember 2025 | 13:13
article-banner

American Heart Association (2024). Saturated Fat. Available from: https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/fats/saturated-fats 

Hope Gillette (2025). 7 Effects of Greasy Food on Your Body. Available from: https://www.healthline.com/nutrition/greasy-food 

Kathleen Ferraro (2025). 4 Reasons Why Fried, Greasy Food Causes Gas. Available from: https://www.everydayhealth.com/excessive-gas/gas-and-belching-after-greasy-fatty-food/ 

Mayo Clinic (2025). Trans fat is double trouble for heart health. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-cholesterol/in-depth/trans-fat/art-20046114