• Beranda
  • Ibu & Anak
  • Berbahayakah Laringomalasia, Ketika Pita Suara Bayi Belum Terbentuk Sempurna?

Berbahayakah Laringomalasia, Ketika Pita Suara Bayi Belum Terbentuk Sempurna?

Berbahayakah Laringomalasia, Ketika Pita Suara Bayi Belum Terbentuk Sempurna?
Ilustrasi bayi pengidap laringomalasia. Credit: Freepik

Bagikan :

Laringomalasia merupakan kelainan bawaan yang terjadi ketika laring belum terbentuk sempurna saat bayi dilahirkan. Akibatnya, jaringan laring yang masih lunak dapat menutup sebagian jalan napas saat bayi bernapas, sehingga napas terdengar berbunyi.

Artikel berikut akan membahas penyebab laringomalasia serta pilihan penanganannya.

 

Apa Itu Laringomalasia?

Laringomalasia adalah kondisi ketika laring atau kotak suara bayi belum terbentuk sempurna. Jaringan laring yang masih lunak dan tersusun dari tulang rawan dapat mudah kolaps saat bayi bernapas. Akibatnya, bayi mengeluarkan suara berisik ketika bernapas. Kondisi ini merupakan penyebab paling umum dari pernapasan berisik pada bayi.

Suara napas berisik biasanya terdengar lebih jelas saat bayi berbaring telentang, setelah menyusu, ketika gelisah, atau saat menangis. Pada sebagian besar bayi, suara napas berisik ini menjadi satu-satunya gejala yang muncul. Meski terdengar mengkhawatirkan, sebagian besar kasus laringomalasia bersifat ringan dan dapat membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi.

Baca Juga: Mitos Seputar Kehamilan Bayi Kembar

 

Penyebab Laringomalasia

Penyebab pasti laringomalasia belum diketahui secara jelas. Namun, para ahli menduga kondisi ini dapat terjadi akibat beberapa faktor berikut:

  • Kelainan struktural, yaitu ketika tulang rawan atau otot di sekitar laring terbentuk secara berbeda selama perkembangan janin.
  • Rendahnya tonus otot saluran napas atas, sehingga jaringan laring mudah bergerak atau bergetar saat bayi bernapas.
  • Refluks gastroesofageal, yaitu naiknya asam lambung ke arah kotak suara yang dapat mengiritasi dan memperburuk kondisi jaringan laring.
  • Aliran udara yang tidak normal, yang menyebabkan jaringan laring bergerak berlebihan saat bernapas.

 

Gejala Laringomalasia

Gejala laringomalasia dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Gejala utama yang paling sering terlihat adalah suara napas bayi yang berisik atau terdengar berderit. Suara ini biasanya muncul sejak beberapa bulan pertama setelah kelahiran dan umumnya akan membaik dengan sendirinya dalam usia 1–2 tahun.

Pada sebagian bayi, laringomalasia juga dapat menimbulkan kesulitan bernapas atau makan. Beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Apnea, yaitu jeda napas yang cukup lama saat tidur
  • Aspirasi, yaitu makanan atau cairan masuk ke paru-paru
  • Kulit tampak kebiruan (sianosis)
  • Kesulitan menelan
  • Sulit menambah berat badan
  • Tarikan pada leher atau dada saat bernapas

Jika si kecil menunjukkan gejala-gejala tersebut sejak awal kelahiran atau gejalanya tampak memberat, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Baca Juga: Tips Memotong Kuku Bayi dengan Aman

 

Penanganan Laringomalasia

Pada bayi dengan laringomalasia ringan, biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus. Kondisi ini dapat membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi. Sementara itu, pada laringomalasia tingkat sedang, dokter dapat memberikan obat untuk mengurangi asam lambung agar gejala yang muncul menjadi lebih ringan.

Pada kasus ringan hingga sedang, suara napas berisik sering kali terdengar memburuk pada usia 4–8 bulan pertama, kemudian berangsur membaik dan biasanya mereda sepenuhnya saat anak berusia sekitar 18–20 bulan.

Sementara itu, pada laringomalasia berat yang mengganggu pernapasan atau asupan makan, dokter dapat merekomendasikan tindakan operasi yang disebut supraglottoplasti, yaitu pengangkatan sebagian jaringan laring yang bermasalah. Operasi ini mungkin tidak sepenuhnya menghilangkan suara napas berisik, tetapi dapat membantu mengurangi gejala yang berbahaya.

Untuk bayi yang mengalami gangguan makan, orang tua disarankan memberikan makan lebih sering agar kebutuhan kalori dan nutrisi tetap terpenuhi. Pada bayi yang mengonsumsi susu formula, susu dapat dibuat lebih kental untuk membantu mengurangi risiko tersedak dan mencegah makanan naik kembali ke kerongkongan.

 

Laringomalasia umumnya tidak berbahaya dan pada banyak kasus dapat membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi. Namun, jika kondisi ini mulai mengganggu pernapasan, makan, atau perkembangan bayi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan dan perkembangan si kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau memanfaatkan layanan konsultasi pada aplikasi Ai Care yang bisa diunduh melalui App Store atau Play Store

 

Mau tahu informasi seputar kehamilan, menyusui, kesehatan wanita dan anak-anak? Cek di sini, ya!

Writer : Ratih AI Care
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Kamis, 15 Januari 2026 | 13:52
article-banner

Cleveland Clinic. Laryngomalacia. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22076-laryngomalacia

Kids Health. Laryngomalacia. Available from: https://www.kidshealth.org.nz/laryngomalacia#

Anderson, A. (2024). What to Know About Laryngomalacia in Babies. Available from: https://www.webmd.com/parenting/baby/what-to-know-laryngomalacia-babies