Tidak banyak orang menyadari bahwa pola makan dan gaya hidup sehari-hari berperan besar dalam pembentukan batu empedu. Risiko kondisi ini meningkat pada orang dengan pola makan tinggi lemak atau yang mengalami obesitas.
Pada tahap awal, batu empedu sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun, ketika batu berpindah atau menyumbat saluran empedu, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius.
Apa itu Penyakit Batu Empedu?
Batu empedu adalah endapan keras yang terbentuk di dalam kantong empedu, yaitu organ kecil di bawah hati yang berfungsi menyimpan cairan empedu untuk membantu pencernaan lemak. Batu empedu terbentuk ketika empedu mengandung terlalu banyak kolesterol, bilirubin, atau zat lain, sehingga mengkristal dan mengeras seperti kerikil kecil.
Sebagian besar orang dengan batu empedu tidak mengalami gejala apa pun. Namun, bila batu menyumbat saluran empedu, kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat dan berisiko menyebabkan komplikasi serius.
Baca Juga: Diet untuk Menjaga Kesehatan Sistem Empedu
Gejala Batu Empedu
Batu empedu yang tidak menyumbat saluran empedu umumnya tidak menimbulkan keluhan. Namun, bila batu berpindah dan menghalangi aliran empedu, beberapa gejala dapat muncul, antara lain:
- Nyeri mendadak di perut kanan atas, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak
- Mual atau muntah
- Nyeri yang menjalar ke punggung atau bahu kanan
- Demam, menggigil, serta kulit dan bagian putih mata tampak menguning
Nyeri akibat batu empedu dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam. Jika gejala ini pernah terjadi, risiko kekambuhan cenderung tinggi, dan pada banyak kasus dokter akan merekomendasikan operasi pengangkatan kantong empedu.
Cara Mencegah Batu Empedu
Risiko terbentuknya batu empedu dapat dikurangi dengan beberapa langkah sederhana berikut:
Menjaga berat badan ideal
Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu sehingga risiko terbentuknya batu empedu ikut meningkat. Oleh karena itu, menurunkan berat badan menjadi langkah yang penting. Namun, penurunan berat badan sebaiknya tidak dilakukan terlalu cepat.
Diet ekstrem atau puasa dalam jangka panjang justru dapat memicu pembentukan batu empedu karena kantong empedu tidak berkontraksi secara teratur. Idealnya, penurunan berat badan dilakukan secara bertahap, sekitar 0,5–1 kg per minggu.
Konsumsi makanan tinggi serat
Serat membantu mengikat kolesterol dan membuangnya melalui saluran pencernaan. Konsumsi makanan tinggi serat seperti buah, sayur, kacang-kacangan, gandum utuh, dan oatmeal tidak hanya baik untuk kesehatan pencernaan, tetapi juga membantu mencegah penumpukan kolesterol dalam empedu.
Pilih lemak sehat dan hindari lemak jahat
Batasi konsumsi lemak jenuh, seperti mentega, daging berlemak, dan produk susu tinggi lemak, serta lemak trans yang banyak terdapat pada makanan olahan seperti kue, keripik, dan margarin. Sebagai gantinya, pilih sumber lemak tak jenuh yang lebih sehat, seperti minyak zaitun, alpukat, ikan berlemak, dan kacang-kacangan.
Baca Juga: Tiga Penyebab Utama Penyakit Batu Empedu
Jangan abaikan asupan lemak sama sekali
Meski terdengar kontradiktif, menghindari lemak sepenuhnya justru berisiko. Tubuh tetap membutuhkan lemak agar kantong empedu dapat bekerja dengan baik.
Tanpa kontraksi yang teratur, empedu dapat mengental dan memicu pembentukan batu. Oleh karena itu, lemak tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah seimbang, tidak berlebihan, tetapi juga tidak dihindari sepenuhnya.
Pertimbangkan pola makan nabati
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola makan berbasis tumbuhan, seperti sayur, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan, dikaitkan dengan risiko batu empedu yang lebih rendah. Pola makan ini umumnya rendah lemak jenuh dan tinggi serat, kombinasi yang baik untuk menjaga kesehatan kantong empedu.
Minum kopi secara moderat
Beberapa penelitian melaporkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah sedang dapat menurunkan risiko terbentuknya batu empedu. Hal ini diduga karena kopi membantu merangsang kontraksi kantong empedu sehingga empedu tidak mudah mengendap.
Jika Anda mengalami gejala batu empedu, sebaiknya segera berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter. Konsultasi juga dapat dilakukan melalui aplikasi kesehatan Ai Care yang tersedia di App Store maupun Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Nadia Opmalina
Cleveland Clinic (2024). Gallstones. Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/7313-gallstones
Mark W. Jones, et all (2025). Gallstones (Cholelithiasis). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459370/
Maria Masters (2024). What Are the Best Ways to Prevent Gallstones?. Available from: https://www.everydayhealth.com/gallbladder/4-ways-to-prevent-gallstones.aspx
WebMD (2025). Understanding Gallstones -- Prevention. Available from: https://www.webmd.com/digestive-disorders/understanding-gallstones-prevention