Hiperseksualitas, yang sering disebut sebagai kecanduan seks, merupakan kondisi nyata yang dapat berdampak pada kesehatan fisik, emosional, dan kehidupan sosial seseorang. Meski belum diakui secara resmi dalam DSM-5, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai gangguan perilaku seksual kompulsif.
Apa itu Hiperseksualitas?
Hiperseksualitas adalah kondisi ketika seseorang mengalami dorongan, fantasi, atau perilaku seksual yang sangat kuat, berulang, dan sulit dikendalikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada kondisi ini, aktivitas seksual sering menjadi pusat perhatian utama dalam hidup.
Akibatnya, penderitanya kerap mengorbankan hubungan pribadi, pekerjaan, pendidikan, hingga kesehatan. Hiperseksualitas bukan sekadar memiliki hasrat seksual tinggi, melainkan ketidakmampuan mengendalikan dorongan seksual meskipun disertai rasa bersalah atau konsekuensi negatif.
Baca Juga: Berapa Lama Boleh Berhubungan Intim Setelah Pemasangan IUD (KB Spiral)?
Penyebab Hiperseksualitas
Hingga kini, penyebab hiperseksualitas belum sepenuhnya dipahami. Para ahli menduga kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain:
- Gangguan kesehatan mental, seperti bipolar disorder, depresi, atau gangguan kecemasan
- Cedera otak atau tumor, terutama di area lobus frontal
- Penggunaan alkohol atau zat terlarang
- Riwayat gangguan makan, baik saat ini maupun di masa lalu
- Efek samping obat tertentu
- Pengalaman trauma atau pelecehan seksual
Tanda-Tanda Hiperseksualitas
Mengenali gejala hiperseksualitas memang tidak mudah, karena banyak orang merasa malu atau menyangkal kondisi yang dialaminya. Padahal, mengenali tanda sejak dini sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Beberapa tanda umum hiperseksualitas antara lain:
- Munculnya fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang berulang dan sangat intens
- Dorongan kuat untuk melakukan aktivitas seksual yang diikuti rasa lega sesaat, lalu muncul penyesalan atau rasa bersalah
- Berulang kali mencoba mengurangi atau menghentikan perilaku tersebut, tetapi selalu gagal
- Menggunakan aktivitas seksual sebagai pelarian dari stres, kesepian, depresi, atau kecemasan
- Tetap melakukan perilaku seksual meskipun menimbulkan konsekuensi serius, seperti infeksi menular seksual, konflik hubungan, masalah keuangan, atau masalah sosial
- Kesulitan membangun atau mempertahankan hubungan yang sehat dan stabil
Baca Juga: Amankah Berhubungan Intim saat Sedang Menstruasi?
Bisakah Hiperseksualitas Diatasi?
Ya, hiperseksualitas dapat diatasi dengan penanganan yang tepat. Namun, rasa malu dan stigma sering membuat penderitanya ragu untuk mencari bantuan. Padahal, dukungan medis dan psikologis sangat penting untuk pemulihan.
Penanganan hiperseksualitas umumnya melibatkan kombinasi terapi, seperti penggunaan obat-obatan tertentu (misalnya antidepresan, penstabil suasana hati, atau terapi hormon) serta terapi psikologis. Pendekatan ini bertujuan membantu mengendalikan dorongan seksual dan memperbaiki kualitas hidup.
Segera konsultasikan ke dokter atau psikolog jika Anda merasa kehilangan kendali atas dorongan seksual, memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau mengalami gangguan pada hubungan, pekerjaan, maupun kesehatan mental.
Anda juga dapat memanfaatkan layanan konsultasi kesehatan pada aplikasi Ai Care yang tersedia di App Store dan Play Store untuk mendapatkan bantuan profesional.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr. Monica Salim
- dr Nadia Opmalina
Mayo Clinic (2023). Compulsive sexual behavior. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/compulsive-sexual-behavior/symptoms-causes/syc-20360434
Jenna Fletcher (2023). What to know about hypersexuality. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/hypersexuality
Toketemu Ohwovoriole (2025). What Is Hypersexuality?. Available from: https://www.verywellmind.com/hypersexuality-definition-symptoms-treatment-5199535