Inilah Penyebab dan Faktor Risiko Mata Minus (Miopi)

Inilah Penyebab dan Faktor Risiko Mata Minus (Miopi)
Credits: Freepik. Diagnosis dini miopia dapat mencegah perburukan.

Bagikan :

Selama ini Anda mungkin pernah mendengar istilah mata minus, plus, atau silinder. Kondisi-kondisi ini termasuk gangguan penglihatan yang umum, dan sebagian besar orang pada akhirnya membutuhkan kacamata atau lensa kontak agar penglihatannya menjadi jelas.

Pada artikel ini, kita akan fokus membahas mata minus. Apa itu mata minus, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengelolanya?

Apa itu Mata Minus?

Mata minus dikenal juga dengan istilah miopi (rabun jauh). Kondisi ini terjadi ketika Anda bisa melihat benda yang dekat secara jelas, tetapi benda yang jauh terlihat buram. Misalnya, kesulitan membaca papan tulis di kelas atau melihat rambu lalu lintas dari kejauhan.

Miopi biasanya muncul di masa kanak-kanak, seringkali di usia 6-14 tahun dan bisa memburuk selama masa pertumbuhan. Di usia 20-an kondisinya akan stabil tetapi juga bisa terus berkembang.

Sebagian besar kasus miopi bersifat ringan dan bisa dikoreksi dengan penggunaan kacamata, lensa kontak, atau prosedur bedah seperti LASIK. Namun, pada kondisi yang lebih parah, komplikasi serius seperti ablasi retina, glaukoma, atau katarak bisa meningkat.

Baca Juga: Gejala Mata Malas (Amblyopia)

Penyebab Mata Minus

Miopi terjadi akibat kesalahan refraksi pada mata. Pada mata normal, cahaya yang masuk melalui kornea dan lensa akan difokuskan tepat pada retina.

Namun, pada penderita miopi, bola mata terlalu panjang dari depan ke belakang, atau kornea terlalu melengkung, sehingga cahaya justru difokuskan di depan retina, bukan di atasnya. Akibatnya, penglihatan jarak jauh menjadi kabur.

Para ahli percaya bahwa miopi disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Jika salah satu atau kedua orang tua mengalami miopi, anak berisiko lebih tinggi untuk mengalaminya juga.

Baca Juga: Perawatan Mata Pasca Operasi LASIK

Faktor Risiko Mata Minus

Beberapa faktor diketahui meningkatkan risiko mata minus, di antaranya:

Faktor genetik

Adanya keluarga yang memiliki mata minus juga meningkatkan risiko mata minus secara signifikan.

Usia

Miopi paling sering berkembang pada masa kanak-kanak dan remaja. Menurut para ahli, sebagian besar kasus terdiagnosis antara usia 3 hingga 12 tahun.

Terlalu banyak aktivitas "jarak dekat"

Menghabiskan waktu berjam-jam membaca, menulis, atau menggunakan perangkat digital seperti ponsel dan komputer tanpa jeda istirahat dapat meningkatkan risiko miopi.

Kurangnya waktu di luar ruangan

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan memiliki risiko lebih rendah terkena miopi. Paparan sinar matahari membantu mengatur pertumbuhan mata yang sehat.

Diabetes

Meski tidak umum, kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penderita diabetes dapat menyebabkan perubahan sementara pada lensa mata, yang menyerupai gejala miopi. Kondisi ini biasanya membaik setelah kadar gula stabil.

Sangat penting untuk tidak meremehkan gejala awal mata minus. Segera konsultasikan dengan dokter bila sering menyipitkan mata atau mengeluhkan penglihatan kabur saat melihat jauh.

Anda juga bisa berbicara dengan dokter melalui layanan konsultasi kesehatan Ai Care yang tersedia di App Store atau Play Store.

Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!

Writer : Agatha Writer
Editor :
  • dr Nadia Opmalina
Last Updated : Selasa, 30 Desember 2025 | 12:20
article-banner

Cleveland Clinic (2023). Myopia (Nearsightedness). Available from: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8579-myopia-nearsightedness 

David Turbert (2024). Nearsightedness: What Is Myopia?. Available from: https://www.aao.org/eye-health/diseases/myopia-nearsightedness 

 

Rachel Reiff Ellis (2024). What Is Myopia (Nearsightedness)?. Available from: https://www.webmd.com/eye-health/nearsightedness-myopia