Pernahkah Anda sedang berdebat, tetapi tiba-tiba suasananya berubah menjadi menyakitkan? Banyak orang tidak menyadari bahwa ada garis tipis antara adu argumen yang sehat dan verbal abuse yang merusak.
Memahami perbedaan keduanya adalah langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih berempati.
Apa itu Verbal Abuse?
Verbal abuse adalah bentuk kekerasan emosional di mana seseorang secara berulang menggunakan kata-kata untuk menyerang, mendominasi, merendahkan, menakut-nakuti, atau mengendalikan orang lain.
Meskipun tidak meninggalkan luka fisik, verbal abuse dapat menyebabkan trauma psikologis jangka panjang, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan penurunan harga diri yang mendalam.
Verbal abuse termasuk dalam spektrum kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang tidak terbatas pada kekerasan fisik saja, melainkan juga mencakup kekerasan emosional, psikologis, seksual, dan ekonomi.\
Baca Juga: Sifat Materialistis dan Hubungannya dengan Kecanduan Belanja
Adu Argumen Vs Verbal Abuse, Apa Bedanya?
Perdebatan yang sehat tentu berbeda jauh dari verbal abuse. Berikut adalah ciri perdebatan sehat:
- Tidak melibatkan penghinaan pribadi, julukan merendahkan, atau serangan karakter
- Tidak terjadi setiap hari
- Fokus pada satu isu spesifik, bukan serangan terhadap harga diri pasangan
- Kedua pihak berusaha mendengarkan dan memahami sudut pandang masing-masing
- Bahkan jika emosi memuncak hal itu bersifat tiba-tiba, bukan pola, dan diikuti dengan upaya memperbaiki hubungan
- Tidak ada upaya menghukum, mengancam, atau memanipulasi setelah argumen
- Kedua pihak setara, tidak ada yang menang dengan merendahkan yang lain
Tanda-Tanda Verbal Abuse
Sebaliknya, verbal abuse memiliki pola yang sistematis dan merusak. Berikut adalah tanda-tandanya:
- Adanya nama julukan yang merendahkan dan mengejek
- Sikap merendahkan dan meremehkan untuk membuat korban merasa tidak cukup baik
- Kritik bersifat kejam, terus-menerus, dan ditujukan untuk menghancurkan harga diri
- Sengaja membuat korban merasa malu, tidak berharga, dan tidak layak dicintai
- Adanya upaya mengendalikan dengan memanfaatkan rasa bersalah
- Menyalahkan korban dan menolak tanggung jawab
- Adanya tuduhan tanpa dasar yang sering tidak disertai bukti
- Diam sebagai hukuman, menolak tatap mata dan menolak berkomunikasi
- Terus-menerus mengungkit masalah lama hanya untuk memancing emosi
- Mengancam untuk mempertahankan kendali
Baca Juga: Normalkah Merasa Stres setelah Berhubungan Intim?
Apa yang Harus Dilakukan?
Jika Anda merasa hubungan Anda lebih mirip verbal abuse dibandingkan argumen, percayalah pada insting Anda. Terapkan batasan jelas dan katakan dengan tegas bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.
Jangan berusaha memperbaiki pelaku, karena tugas Anda adalah melindungi diri, bukan mengubah orang lain. Cari dukungan dan pertimbangkan untuk mengakhiri hubungan.
Verbal abuse sering kali menjadi pintu gerbang ke bentuk kekerasan lain, termasuk kekerasan fisik. Jika Anda membutuhkan bantuan, segera hubungi:
- Layanan SAPA 129 melalui WhatsApp di 0811-1129-129
- Atau SAPA 122 untuk dukungan pengaduan kekerasan
Anda juga bisa berbicara dengan dokter melalui layanan konsultasi kesehatan Ai Care yang tersedia di App Store atau Play Store.
Mau tahu informasi seputar penyakit lainya? Cek di sini, yah!
- dr Hanifa Rahma
Ariane Resnick, CNC (2025). How to Deal With Verbal Abuse. Available from: https://www.verywellmind.com/how-to-deal-with-verbal-abuse-5205616
Ann Pietrangelo (2024). What Is Verbal Abuse? How to Recognize Abusive Behavior and What to Do Next. Available from: https://www.healthline.com/health/mental-health/what-is-verbal-abuse
Psychology Today. Domestic Violence. Available from: https://www.psychologytoday.com/us/basics/domestic-violence
Sherri Gordon (2025). What Is Verbal Abuse?. Available from: https://www.verywellmind.com/how-to-recognize-verbal-abuse-bullying-4154087